HeadlineKota BandungMasalahPelayanan PublikPemerintahanPeristiwaPermintaan MaafPertanggung Jawaban

Tanggul Sungai Cikeruh Jebol, Sejumlah Kereta Api di Bandung Alami Keterlambatan

KOTA BANDUNG, METROJABAR.ID- PT KAI Daop 2 Bandung menyampaikan permohonan maaf atas gangguan perjalanan Kereta Api di petak jalan Cimekar-Rancaekek tepatnya di BH 784 di KM 172+0/1, yang terdampak akibat jebolnya tanggul sungai Cikeruh dan mengakibatkan jalur kereta api di lokasi tersebut terendam banjir, Sabtu (27/11).

Pada pukul 16.07 WIB, jalur lintas KA di lintas Cimekar-Rancaekek terimbas banjir dengan ketinggian 10 cm di atas Kop Rel yang mengakibatkan KA Jarak Jauh dan KA Lokal beroperasi tidak sesuai jadwal.

Hal tersebut berdampak pada keterlambatan sejumlah KA di wilayah Daop 2 Bandung diantaranya KA Lokal Bandung Raya, Kutojaya Selatan, Argowilis, Turangga, Pasundan dan Malabar.

Manager Humasda Daop 2 Bandung, Kuswardoyo menyampaikan bahwa terdapat genangan air yang berasal dari luapan sungai Cikeruh. Tepatnya di BH 784 km172 +0/1 petak jalan Cimekar-Rancaekek.

Menurut BBWS hal tersebut dikarenakan salah satu tanggul di sungai Cikeruh jebol sehingga aliran airnya mengalir hingga menutupi jalur KA.

“Sejak pukul 16.07 WIB di lokasi jalur yang terendam banjir dipasang semboyan 3, artinya kereta api tidak boleh melintas. Aliran air yang deras membawa sampah kayu dan sampah lainnya sehingga bukan hanya mengharuskan kami membersihkan lokasi dari sampah tapi kami juga harus menunggu air di lokasi surut. Pukul 20.33 WIB setelah air dilokasi surut, lokasi bisa dilalui dengan kecepatan dibatasi 5 km/jam,” ujar Kuswardoyo.

PT KAI Daop 2 Bandung juga memberikan service recovery akibat keterlambatan sesuai ketentuan.

Pihaknya juga memperkenankan para pengguna jasa yang hendak berangkat namun terdampak gangguan perjalanan KA tersebut, dapat melakukan pembatalan perjalanan di loket stasiun dengan pengembalian bea 100% dari harga tiket, sesuai aturan yang berlaku.

“Kami atas nama PT KAI memohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan yang diakibatkan kondisi alam ini,” tutup Kuswardoyo. (Red./Annisa)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Translate »
Close
Close