CimahiHeadlineKEMANUSIAANKESEHATAN

Dinkes Kota Cimahi Himbau Masyarakat Agar Waspada Terhadap Ancaman DBD

CIMAHI, METROJABAR.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi meminta masyarakat tetap waspada terhadap ancaman Demam Berdarah Dangue (DBD).

Sebab, bulan Mei tercatat ada seorang anak perempuan berusia 8 tahun asal Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah yang meninggal akibat virus dangue yang ditularkan nyamuk aedes aegypti.

“Iya betul ada yang meninggal kena DBD, perempuan berusia 8 tahun. Kondisinya sudah syok,” terang Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Romi Abdurahkman, di ruang kerja, Jln.R.D.Hardjakusumah Kota Cimahi. Senin (6/7/2020).

Tercatat hingga Mei 2020, kasus DBD di Kota Cimahi telah menyasar terhadap 214 warga Kota Cimahi. Rinciannya, Januari ada 55 kasus, Februari ada 59 kasus, Maret ada 42 kasus, April ada 40 kasus dan Mei 18 kasus. Berdasarkan data tersebut, kasus DBD di Cimahi cenderung menurun.

“Mengingat masa penularan sih mestinya udah di curva turun,” ucap Romi Abdurahkman

Meski begitu, lanjut Romi, masyarakat Kota Cimahi tetap harus waspada sebab DBD sukar untuk diprediksi. Apalagi, kata dia, Kota Cimahi merupakan daerah endemis DBD, yang artisnya selalu ada temuan setiap tahunnya

“Jadi memang Cimahi ini setiap tahunnya selalu ada kasus DBD, jadi kita endemis,” jelas Romi.

Cara yang paling mudah dan efektif untuk mencegah penularan DBD, imbuhnya, masyarakat tetap harus

menjalankan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, yang bertugas untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di rumahnya masing-masing.

“Bukan cuma rumah, tapi juga di halaman sekitar rumah. Soalnya saat ini kalau bukan kita sendiri (melakukan PSN), enggak akan ada yang meriksa. Jadi periksa jentik di rumah sendiri,” imbuh Romi.

Jentik nyamuk biasanya berkembangbiak dalam genangan-genangan air. Menurutnya, jika masyarakat menjalankan PSN di rumahnya masing-masing, seperti tidak membiarkan adanya genangan air, kasus DBD pun bisa dicegah.

“Insya Alloh kalau masyarakat menerapkan gerakan, enggak akan terlalu melonjak,” ujar Romi.

Untuk fogging, akan tetap dilakukan berdasarkan hasil verifikasi Puskemas di lapangan. Namun pelaksanaan fogging akan disesuaikan dengan anjuran terkini seputar pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19).  Seperti menggunakan masker dan physical serta social distancing.

“Kalau memang membutuhkan dan dirasa perlu (baru fogging) dilaksanakan dengan mengutamakan tidak ada kerumunan,” pungkas Romi. (Red./Alin)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Translate »
Close
Close