
METRO JABAR.ID — Peringati Sumpah Pemuda Gelak tawa terdengar memenuhi ruangan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Selasa, 27 Oktober 2026. Bukan karena pertunjukan dari komika profesional, melainkan aksi 17 Warga Binaan yang tampil dalam lomba Stand Up Comedy dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Satu per satu peserta naik ke panggung membawa materi dengan gaya masing-masing. Ada yang bercerita tentang keseharian, ada yang melakukan impersonate, hingga berani meroasting petugas yang sehari – hari mereka temui.
Kegiatan ini menjadi ruang yang berbeda bagi Warga Binaan untuk menyalurkan kreativitas sekaligus melatih keberanian berbicara di depan banyak orang.
Ide lomba Stand Up Comedy tersebut berawal dari Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Rika Aprianti, yang ingin menghadirkan kegiatan pembinaan dengan cara yang lebih ringan, tetapi tetap memberi ruang bagi Warga Binaan untuk mengembangkan kemampuan diri.
“Kami ingin Warga Binaan punya ruang untuk berani tampil, menyampaikan cerita, dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang positif. Stand up comedy ini bukan hanya soal membuat orang tertawa, tetapi juga melatih kepercayaan diri, keberanian berbicara, dankreativitas mereka” ujar Rika.
Tak berhenti di panggung lomba, peserta dengan penampilan terbaik nantinya juga akan mendapat kesempatan untuk kembali tampil pada PreLaunching Lamoria Paviljoen di GOR Sport Jabar Arcamanik pada 1 November 2026 mendatang. Kesempatan tersebut diharapkan menjadi pengalaman baru bagi Warga Binaan untuk tampil di ruang yang lebih luas sekaligus menunjukkan kemampuan yang telah mereka latih.
Sebanyak 17 Warga Binaan kemudian mengikuti lomba dengan materi yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Meski sebagian besar belum pernah tampil sebagai komika, mereka tetap berani berdiri di depan penonton dan membawakan materi dengan percaya diri.
Untuk memberikan penilaian sekaligus masukan kepada peserta, Lapas Perempuan Bandung menghadirkan dua juri dari komunitas Stand Up Indo, yakni Eman Junot dari Stand Up Indo Bandung dan Ghulman Abiyyu dari Stand Up Indo Jatinangor dan 1 Juri dari Petugas Lapas

Perempuan Bandung yakni Nandi Rusyadi.
Penilaian tidak hanya melihat seberapa banyak tawa yang didapat peserta, tetapi juga cara membawakan materi, kepercayaan diri, penyampaian, hingga kemampuan membangun interaksi dengan penonton.
Eman Junot sangat mengapresiasi kegiatan Lomba Stand UP Comedy yang diikuti oleh para Warga Binaan, ia mengaku cukup terkejut melihat keberanian para peserta yang mampu
membawa cerita sederhana menjadi materi yang menghibur.
“Dengan adanya program ini saya cukup mengapresiasi teman – teman Warga Binaan Lapas Perempuan Bandung karena menurut saya ini bisa jadi bekal untuk teman – teman ketika sudah
keluar dari sini” Ujar Eman
Suasana semakin pecah ketika beberapa peserta mulai membawa materi tentang para petugas.
Roasting dan impersonate dilakukan dengan gaya ringan, spontan, dan tetap dalam suasana penuh keakraban. Para petugas yang menjadi bahan candaan pun ikut tertawa bersama penonton.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Opung Risma. Dengan penuh percaya diri, ia berdiri di depan penonton dan memulai cerita – cerita menghibur.
“Saya tuh lahirnya di Medan, besar di Jakarta, Tua – tua di Penjara” Celetuk Opung RismaGelak tawa para Warga Binaan dan Petugas yang menonton terdengar sangat jelas di ruangan.
Bagi Opung Risma, bisa tampil di depan banyak orang menjadi pengalaman tersendiri.
Ia mengaku awalnya sempat merasa gugup, namun suasana penonton membuatnya semakin berani menyampaikan materi.
“Seru tapi deg-degan juga namanya juga baru kali ini tampil Stand Up Comedy di Lapas, tapi keren – keren banyak yang terhibur juga penonton.” Ujar Risma
Tidak hanya peserta, Warga Binaan yang hadir sebagai penonton juga ikut menikmati jalannya lomba.
Ameng, salah satu Warga Binaan yang menyaksikan acara, mengatakan kegiatan tersebut memberikan suasana berbeda dari aktivitas sehari-hari.
“Acaranya seru, ini kan mereka belum pada biasa tampil kaya gini tapi segini aja udah menghibur banget. Yang paling saya inget itu dari bu Nurhasanah “kapal salam kita mah adanya di mangkok” Saya yang orang Palembang aja ketawa denger Jokes nya dia” Ujar Ameng
Di balik tawa yang memenuhi ruangan, lomba Stand Up Comedy tersebut membawa tujuan yang lebih besar.
Kegiatan menjadi salah satu cara untuk melatih komunikasi, kreativitas, keberanian, serta rasa percaya diri Warga Binaan melalui media yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda pun tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial. Melalui panggung kecil tersebut, Warga Binaan mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa
semangat pemuda juga dapat diwujudkan melalui keberanian untuk belajar, mencoba hal baru, dan menyampaikan gagasan.
Siang itu, tawa menjadi bagian dari proses pembinaan. Bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang bagi Warga Binaan untuk belajar bahwa keberanian untuk berdiri dan berbicara di depan
orang lain bisa dimulai dari satu hal sederhana: berani mencoba.
( Pradipta )



Discussion about this post