EkonomiHeadlineKota BandungKreatifKreativitasPeristiwaPrakarya

Komunitas Rastik Asal Bandung Bikin Karya Antik dari Bahan Bekas: Wastafel Mesin Jahit dan Baju Kulit Jengkol

KOTA BANDUNG, METROJABAR.ID- Komunitas barang bekas antik atau Rastik asal Kota Bandung berhasil membuat karya unik dan langka berupa baju dari kulit jengkol dan wastafel berbahan dasar mesin jahit bekas.

Komunitas Rastik yang berasal dari Jalan Pamitran IV no. 22, Cipadung Kulon adalah salah satu pegiat lingkungan yang sukses menyulap sampah atau barang bekas menjadi karya berdaya guna dan bernilai ekonomi.

Sejak 10 tahun, komunitas Rastik berkutat dalam pengolahan sampah anorganik. Di antaranya sampah plastik, logam, dan elektronik.

Ada satu karya yang sangat menarik pernah dibuat oleh Rastik, yakni wastafel. Wastafel ini bukan terbuat dari ember, batu, atau kayu, melainkan berbahan dasar barang elektronik bekas, yakni mesin jahit manual dan monitor tabung.

Melansir situs resmi Pemkot Bandung, founder dan creator Rastik, Enie Mualifah mengatakan, pembuatan wastafel unik ini dikerjakan selama dua minggu dibantu timnya.

“Kantor kelurahan sempat pesan wastafel ini di kami. Waktu itu kami jual Rp1,5 juta karena memang bahannya sekarang susah dicari ya, mesin jahit manual yang pakai kaki, dan monitor tabung,” ucapnya.

Enie dan tim juga berhasil membuat baju berbahan dasar bekas kulit jengkol. Bahkan, baju ini mendapatkan penghargaan dari Atalia Praratya tahun 2017, semasa Ridwan Kamil masih menjadi Wali Kota Bandung.

“Waktu itu kami diundang ke acara fashion show pameran batik di Siliwangi tahun 2017. Beberapa busana yang kami buat itu dari bahan kulit jengkol dan bekas jok sofa. Alhamdulillah dapat penghargaan dari Ibu Atalia,” tuturnya.

Ia menjelaskan, komunitas Rastik biasanya mengadakan kegiatan rutin setiap Sabtu dan Minggu. Mulai dari proses pengumpulan barang bekas sampai membuatnya menjadi sebuah karya bernilai ekonomi.

“Biasanya kita dapat sampah dari warga sekitar. Tapi, kalau saat kita bikin ternyata masih kurang bahan, biasanya kita cari ke tukang rongsok,” ujar Enie.

Hasil dari prakarya ini, mereka jual melalui online. Enie mengungkapkan, banyak respons positif yang ia terima dari para konsumennya.

Tak hanya personal, tapi juga dari tataran pemerintah kerap memesan karya tangan Enie dan kawan-kawan Rastik.

“Banyak yang pesan, Alhamdulillah. Ada dari pemerintah sekitar Bandung. Ada juga yang personal dari Kalimantan pesan karya kita,” ungkapnya.

Untuk kisaran harga yang dibanderol pada suatu prakarya, Enie menyebutkan, tergantung dari tingkat kesulitan dalam membuat pesanannya.

Semakin rumit atau spesifik pembuatan prakarya yang dipesan, maka bahan baku barang bekas elektronik yang dibutuhkan pun biasanya lebih sulit ditemukan.

“Kisaran harga Rp25.000 – Rp1,5 juta. Selain dari ukuran, harganya juga tergantung tingkat kesulitan bahan dan lamanya pembuatan,” paparnya.

“Paling mudah itu kita bisa menyelesaikan dalam waktu satu jam, seperti gelas pot, atau kerajinan yang diukir sederhana. Lalu, yang lama itu bikin lukisan, instalasi, atau wastafel. Biasanya jadi dua minggu atau 1-2 bulan,” tuturnya. (Red./Azay)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Translate »
Close
Close